Persiapan BSC sebelum digunakan cek sertifikasi airflow sash APD work surface

Persiapan Biosafety Cabinet Sebelum Digunakan: SOP Lengkap

Persiapan Biosafety Cabinet sebelum digunakan merupakan tahap penting untuk memastikan kabinet berada dalam kondisi yang sesuai sebelum pekerjaan laboratorium dimulai. Persiapan tidak hanya berarti menyalakan blower atau kipas, tetapi juga mencakup pemeriksaan kondisi kabinet, status sertifikasi, airflow, posisi sash, kebersihan area kerja, penataan material, serta kesiapan operator.

Biosafety Cabinet (BSC) merupakan perangkat primary containment yang mengandalkan sistem aliran udara dan desain kabinet untuk membantu mengendalikan risiko aerosol biologis. Karena itu, BSC harus digunakan dalam kondisi yang sesuai dengan desain, instruksi manufacturer, SOP laboratorium, dan hasil pengujian kinerja yang berlaku.

WHO menekankan bahwa manfaat perlindungan BSC dapat berkurang apabila kabinet digunakan secara tidak benar. Operator juga perlu mendapatkan pelatihan dan mengikuti protokol tertulis sebelum melakukan pekerjaan secara rutin di dalam kabinet. WHO – Using Biological Safety Cabinets in the Laboratory.

Apa Tujuan Persiapan Biosafety Cabinet?

Tujuan utama persiapan adalah memastikan bahwa BSC, lingkungan di sekitarnya, material kerja, dan operator berada dalam kondisi yang mendukung proses containment.

Secara umum, persiapan sebelum penggunaan bertujuan untuk:

  • memastikan BSC berada dalam kondisi operasional;
  • memastikan tidak terdapat kerusakan atau kondisi abnormal;
  • memastikan indikator airflow berada pada kondisi yang sesuai;
  • memastikan area kerja bersih dan telah didekontaminasi sesuai kebutuhan;
  • memastikan front dan rear grille tidak terhalang;
  • mengurangi material yang tidak diperlukan;
  • menata pekerjaan agar mendukung alur dari area bersih menuju area terkontaminasi;
  • memastikan operator memahami SOP dan prosedur respons terhadap alarm.

WHO juga menekankan bahwa lokasi BSC harus dipilih untuk meminimalkan gangguan dari lalu lintas orang, pintu, jendela, dan sumber aliran udara lain yang dapat memengaruhi inflow pada bukaan depan kabinet.

Sebelum Menggunakan BSC, Periksa Status Sertifikasinya

Urutan SOP
Sebelum melakukan pekerjaan, operator perlu mengetahui apakah BSC masih berada dalam periode sertifikasi atau pengujian kinerja yang dipersyaratkan oleh laboratorium dan prosedur yang berlaku.

Jangan menyimpulkan bahwa BSC siap digunakan hanya karena blower dapat dinyalakan. Kondisi fisik, airflow, HEPA filter, alarm, sash, dan parameter kinerja lainnya memerlukan verifikasi sesuai jenis kabinet dan prosedur pengujian yang berlaku.

CDC BMBL 6 menjelaskan bahwa BSC perlu disertifikasi untuk memastikan kinerjanya dan bahwa pemilihan serta penggunaan BSC harus menjadi bagian dari pendekatan protocol-driven risk assessment. CDC/NIH – BMBL 6th Edition.

Jika status sertifikasi tidak diketahui atau sudah tidak berlaku menurut sistem mutu laboratorium, jangan menganggap kabinet otomatis siap digunakan untuk pekerjaan berisiko.

Langkah 1: Periksa Kondisi Fisik Biosafety Cabinet

Lakukan pemeriksaan visual sebelum menyalakan atau mulai menggunakan kabinet.

Periksa beberapa bagian berikut:

  • kondisi permukaan kerja;
  • kaca atau sash;
  • front grille;
  • rear grille;
  • lampu indikator;
  • panel kontrol;
  • kabel dan sambungan listrik yang terlihat;
  • bagian luar kabinet;
  • tanda kerusakan atau perubahan fisik;
  • adanya material atau benda yang tertinggal dari pekerjaan sebelumnya.

Jika ditemukan kerusakan yang dapat memengaruhi operasi kabinet, jangan langsung melanjutkan pekerjaan. Ikuti prosedur pelaporan kerusakan dan evaluasi oleh personel yang berwenang.

Langkah 2: Pastikan Area di Sekitar BSC Tidak Mengganggu Airflow

Sebelum bekerja, perhatikan kondisi di sekitar kabinet. Pintu yang sering dibuka-tutup, orang yang lalu-lalang, jendela terbuka, atau aliran udara dari sistem HVAC dapat mengganggu inflow BSC.

WHO menyatakan bahwa directional air inflow pada BSC bersifat sensitif terhadap gangguan dari orang yang berjalan dekat kabinet, pintu, jendela terbuka, dan air-supply register. Karena itu, BSC idealnya ditempatkan jauh dari lalu lintas dan sumber aliran udara yang mengganggu. WHO – Using Biological Safety Cabinets in the Laboratory.

Persiapan sebelum bekerja bukan hanya dilakukan di dalam kabinet. Kondisi ruangan juga merupakan bagian dari pemeriksaan.

Langkah 3: Pastikan Front Grille dan Rear Grille Bebas

Jangan memulai pekerjaan apabila front grille atau rear grille tertutup oleh material, kertas, alat, atau benda lain.

Pada BSC Class II, grille merupakan bagian dari jalur aliran udara. WHO secara khusus menyatakan bahwa front intake grille tidak boleh terhalang. Material juga perlu ditempatkan tanpa menghalangi rear grille.

Karena itu, sebelum memasukkan material kerja, pastikan jalur airflow tetap terbuka.

Langkah 4: Periksa Posisi Sash atau Viewing Window

Periksa posisi sash atau viewing window sesuai posisi operasi yang ditetapkan untuk model BSC yang digunakan.

Jangan menggunakan angka ketinggian sash dari BSC lain sebagai acuan. Setiap model dapat memiliki desain, indikator, alarm, dan posisi operasi yang berbeda.

Jika terdapat sash alarm, pastikan alarm tidak aktif sebelum pekerjaan dimulai. Apabila alarm berbunyi karena posisi sash tidak sesuai, kembalikan sash ke posisi yang ditentukan manufacturer.

Langkah 5: Nyalakan Sistem BSC Sesuai Prosedur Manufacturer

Nyalakan BSC menggunakan urutan pengoperasian yang tercantum dalam manual model yang digunakan.

Jangan membuat prosedur universal berdasarkan satu merek atau satu model karena sistem kontrol dan urutan pengoperasian dapat berbeda.

Setelah sistem dinyalakan, perhatikan:

  • indikator blower atau fan;
  • indikator airflow;
  • alarm;
  • status sash;
  • indikator filter apabila tersedia;
  • indikator lain pada panel kontrol.

Apabila indikator menunjukkan kondisi abnormal, jangan melanjutkan pekerjaan hanya karena blower masih beroperasi.

Langkah 6: Berikan Waktu bagi Airflow untuk Stabil

Setelah BSC dinyalakan, berikan waktu yang diperlukan agar kondisi airflow mencapai kondisi operasi sesuai manual manufacturer atau indikator kesiapan kabinet.

WHO menjelaskan bahwa operator dapat menunggu sekitar dua menit setelah tangan dan lengan berada di dalam BSC sebelum mulai melakukan manipulasi, sehingga airflow dapat menyesuaikan dan permukaan tangan serta lengan dapat terkena aliran udara. Namun, waktu pengoperasian atau purge sebelum pekerjaan harus mengikuti instruksi model BSC yang digunakan dan SOP laboratorium. WHO – Using Biological Safety Cabinets in the Laboratory.

Jangan menjadikan angka waktu tertentu sebagai spesifikasi universal untuk semua BSC.

Langkah 7: Periksa Alarm Sebelum Mulai Bekerja

Pastikan tidak terdapat alarm aktif yang menunjukkan kondisi abnormal.

Alarm yang perlu diperhatikan dapat meliputi:

  • airflow alarm;
  • sash alarm;
  • alarm filter pada model tertentu;
  • alarm sistem exhaust pada konfigurasi tertentu;
  • indikator kesalahan lainnya.

Airflow alarm perlu diperlakukan secara serius. WHO menjelaskan bahwa alarm airflow menunjukkan gangguan pada pola airflow normal dan dapat menimbulkan risiko bagi operator atau produk. Jika alarm muncul, pekerjaan harus dihentikan dan tindakan selanjutnya mengikuti manual manufacturer serta prosedur laboratorium.

Langkah 8: Pastikan Work Surface Bersih

Periksa kondisi work surface sebelum material baru dimasukkan.

Jika diperlukan, lakukan pembersihan dan disinfeksi menggunakan metode yang telah ditetapkan dalam SOP. Jenis disinfectant harus sesuai dengan risiko biologis yang ditangani serta kompatibel dengan material permukaan kabinet.

WHO merekomendasikan dekontaminasi permukaan interior sebelum dan sesudah penggunaan. WHO – Using Biological Safety Cabinets in the Laboratory.

Jangan menggunakan bahan pembersih secara sembarangan hanya karena memiliki konsentrasi tinggi. Perhatikan kompatibilitas terhadap stainless steel, kaca, seal, coating, dan komponen lain sesuai petunjuk manufacturer.

Langkah 9: Siapkan Material yang Benar-Benar Diperlukan

Setelah kondisi kabinet siap, siapkan hanya material yang dibutuhkan untuk prosedur.

Hindari memasukkan terlalu banyak benda. WHO menyatakan bahwa kabinet tidak boleh diisi secara berlebihan karena overloading dapat memengaruhi efisiensi airflow.

Material yang tidak diperlukan sebaiknya tetap berada di luar BSC.

Langkah 10: Susun Material Tanpa Menghalangi Airflow

Penataan material merupakan bagian penting dari persiapan BSC.

Secara umum:

  • jangan menutup front grille;
  • jangan menutup rear grille;
  • tempatkan material sejauh mungkin ke bagian belakang tanpa menghalangi rear grille;
  • letakkan peralatan besar dengan mempertimbangkan jalur airflow;
  • tempatkan wadah limbah tanpa menghalangi grille;
  • hindari penumpukan material yang tidak diperlukan.

WHO menyarankan pekerjaan mengalir dari area bersih menuju area terkontaminasi. Dengan prinsip tersebut, operator dapat mengurangi kebutuhan untuk memindahkan material terkontaminasi melewati area yang masih bersih.

Langkah 11: Rencanakan Alur Kerja Sebelum Memulai Manipulasi

Sebelum tangan masuk ke dalam kabinet, operator sebaiknya sudah memahami urutan pekerjaan.

Perencanaan sederhana dapat mencakup:

  1. material apa yang masuk terlebih dahulu;
  2. di mana material bersih ditempatkan;
  3. di mana proses manipulasi dilakukan;
  4. di mana material yang telah digunakan ditempatkan;
  5. bagaimana limbah akan dikeluarkan;
  6. bagaimana tumpahan akan ditangani jika terjadi.

Perencanaan ini mengurangi gerakan yang tidak perlu dan membantu mempertahankan alur kerja yang konsisten.

Langkah 12: Tempatkan Peralatan Pembentuk Aerosol dengan Benar

Jika prosedur menggunakan peralatan yang dapat menghasilkan aerosol, seperti vortex mixer atau centrifuge, penempatannya harus dipertimbangkan secara khusus.

WHO merekomendasikan peralatan pembentuk aerosol ditempatkan ke arah bagian belakang kabinet dengan tetap menjaga rear grille tidak terhalang.

Namun, posisi tersebut bukan berarti setiap jenis peralatan dapat ditempatkan sembarangan. Pertimbangkan ukuran, getaran, panas, kebutuhan listrik, kabel, dan dampaknya terhadap airflow.

Langkah 13: Hindari Penggunaan Api Terbuka

Jangan menjadikan burner atau api terbuka sebagai bagian otomatis dari persiapan BSC.

WHO menyatakan bahwa api terbuka harus dihindari karena panas dapat mengganggu pola airflow di dalam kabinet. Alternatif sterilisasi perlu dipilih berdasarkan SOP laboratorium dan instruksi manufacturer.

Jika pekerjaan memerlukan sterilisasi alat, gunakan metode yang telah divalidasi atau ditetapkan laboratorium untuk prosedur tersebut.

Langkah 14: Jangan Menempatkan Paperwork di Dalam BSC

Catatan kerja, formulir, buku laboratorium, atau kertas administrasi tidak sebaiknya ditempatkan di dalam BSC.

WHO secara eksplisit menyatakan bahwa paperwork tidak boleh ditempatkan di dalam BSC karena dapat ikut terbawa airflow dan berpotensi mengganggu sistem aliran udara.

Gunakan sistem pencatatan di luar BSC atau metode dokumentasi lain yang telah ditetapkan oleh laboratorium.

Langkah 15: Pastikan Operator Menggunakan APD Sesuai Risk Assessment

Penggunaan BSC tidak menghilangkan kebutuhan terhadap APD. Jenis APD harus ditentukan berdasarkan risiko pekerjaan dan SOP laboratorium.

APD dapat mencakup, sesuai kebutuhan:

  • jas laboratorium atau protective gown;
  • sarung tangan;
  • pelindung mata atau wajah;
  • masker atau respiratory protection apabila dipersyaratkan oleh risk assessment.

APD tidak boleh dipilih hanya berdasarkan kebiasaan. Risiko biologis, prosedur, kemungkinan percikan, aerosol, dan jenis material harus dipertimbangkan.

Langkah 16: Pastikan Operator Memahami Respons terhadap Alarm

Sebelum pekerjaan dimulai, operator harus mengetahui apa yang harus dilakukan apabila alarm muncul.

Contohnya:

Kondisi Tindakan Awal
Sash alarm Periksa dan kembalikan sash ke posisi operasi sesuai manufacturer.
Airflow alarm Hentikan pekerjaan dan ikuti prosedur respons alarm.
Indikator abnormal Jangan melanjutkan pekerjaan sebelum penyebabnya dievaluasi.

WHO menegaskan bahwa ketika airflow alarm aktif, pekerjaan harus dihentikan dan personel yang bertanggung jawab diberitahu.

Checklist Persiapan Biosafety Cabinet Sebelum Digunakan

Checklist 10 poin persiapan BSC sebelum digunakan
Checklist 10 poin: sertifikasi, grille bebas, sash 8-10in, alarm normal, work surface clean, APD, supplies, waste setup

Checklist berikut dapat digunakan sebagai kerangka pemeriksaan awal. Laboratorium perlu menyesuaikannya dengan jenis BSC, manufacturer, SOP, dan persyaratan sistem mutu yang berlaku.

No. Pemeriksaan Status
1 Status sertifikasi/pengujian masih sesuai prosedur laboratorium ☐
2 Tidak terdapat kerusakan fisik yang terlihat ☐
3 Front grille bebas dari penghalang ☐
4 Rear grille bebas dari penghalang ☐
5 Posisi sash sesuai kondisi operasi ☐
6 Tidak terdapat alarm aktif ☐
7 Work surface siap digunakan ☐
8 Material kerja telah direncanakan dan ditata ☐
9 Operator memahami SOP dan respons alarm ☐
10 APD telah disiapkan sesuai risk assessment ☐

Contoh Urutan SOP Persiapan Biosafety Cabinet

SOP 16 langkah persiapan BSC sebelum digunakan dari cek fisik sampai workflow
SOP 16 langkah persiapan BSC: verifikasi sertifikasi → inspeksi fisik → cek alarm → disinfeksi → workflow plan

Untuk memudahkan penerapan di laboratorium, urutan kerja dapat disusun sebagai berikut:

  1. Pastikan operator telah mendapatkan pelatihan.
  2. Periksa status sertifikasi dan dokumentasi BSC.
  3. Periksa kondisi fisik kabinet.
  4. Pastikan lingkungan sekitar tidak memberikan gangguan airflow.
  5. Periksa front grille dan rear grille.
  6. Periksa posisi sash atau viewing window.
  7. Nyalakan BSC sesuai manual manufacturer.
  8. Pastikan indikator airflow dan alarm berada dalam kondisi normal.
  9. Beri waktu stabilisasi sesuai manual manufacturer atau indikator kesiapan.
  10. Siapkan dan tata material yang diperlukan.
  11. Pastikan material tidak menghalangi grille.
  12. Pastikan operator menggunakan APD sesuai risk assessment.
  13. Rencanakan alur kerja dari area bersih menuju area terkontaminasi.
  14. Mulai pekerjaan hanya setelah seluruh kondisi dinyatakan sesuai.

Kapan BSC Tidak Boleh Langsung Digunakan?

Jangan langsung menggunakan BSC apabila ditemukan kondisi yang dapat memengaruhi containment atau keselamatan kerja, misalnya:

  • airflow alarm aktif;
  • kerusakan fisik yang signifikan;
  • sash tidak dapat berada pada posisi operasi;
  • indikator menunjukkan kondisi abnormal;
  • status sertifikasi tidak diketahui atau tidak sesuai persyaratan laboratorium;
  • terdapat kerusakan pada komponen penting;
  • konfigurasi kabinet baru saja diubah tanpa evaluasi yang diperlukan;
  • BSC baru saja dipindahkan tetapi belum menjalani pemeriksaan atau sertifikasi yang dipersyaratkan;
  • kondisi lingkungan ruangan menyebabkan airflow terganggu.

Dalam kondisi tersebut, ikuti prosedur out-of-service, laporkan kepada personel yang bertanggung jawab, dan lakukan evaluasi sebelum kabinet digunakan kembali.

Persiapan BSC Tidak Sama dengan Sekadar Menyalakan Blower

Salah satu kesalahan umum adalah menganggap BSC sudah siap digunakan ketika blower telah menyala.

Padahal, kesiapan operasional merupakan kombinasi dari kondisi kabinet, airflow, lingkungan ruangan, penataan material, status sertifikasi, SOP, dan kompetensi operator.

WHO menekankan bahwa BSC harus digunakan dengan protokol tertulis dan operator perlu memahami praktik kerja yang benar. Panduan WHO mengenai penggunaan BSC juga menjelaskan bahwa posisi kabinet, pergerakan operator, penataan material, grille, alarm, serta cleaning semuanya dapat memengaruhi efektivitas penggunaan BSC.

Hubungan Persiapan BSC dengan Risk Assessment

Persiapan sebelum penggunaan tidak boleh dipisahkan dari risk assessment. Jenis pekerjaan, material biologis, prosedur yang menghasilkan aerosol, penggunaan peralatan, potensi percikan, dan kebutuhan perlindungan harus diketahui sebelum menentukan cara kerja di dalam BSC.

CDC BMBL 6 menggunakan protocol-driven risk assessment sebagai prinsip utama. BMBL juga merupakan dokumen panduan praktik terbaik dan bukan dokumen regulasi. Karena itu, SOP laboratorium harus tetap memperhatikan regulasi, standar, kebijakan institusi, serta instruksi manufacturer yang berlaku untuk peralatan yang digunakan.

Kesimpulan

Persiapan Biosafety Cabinet sebelum digunakan harus dilakukan secara sistematis. Operator tidak cukup hanya menyalakan blower, tetapi perlu memeriksa status kabinet, sertifikasi, airflow, alarm, sash, kondisi work surface, lingkungan sekitar, penataan material, APD, dan kesiapan prosedur kerja.

Prinsip utamanya adalah memastikan bahwa BSC berada dalam kondisi operasional, airflow tidak terganggu, grille tetap bebas, material ditata secara benar, dan operator memahami SOP sebelum manipulasi dimulai.

Untuk pembahasan lanjutan mengenai kondisi yang perlu diperiksa sebelum BSC digunakan, baca juga Checklist Pemeriksaan Biosafety Cabinet Sebelum Digunakan.

Anda juga dapat mempelajari Penataan Material di Dalam Biosafety Cabinet: Work Zone, Airflow, dan Alur Kerja untuk memahami lebih detail cara mengatur material tanpa mengganggu airflow.

Referensi

Butuh Konsultasi & Penawaran Peralatan Laboratorium?

Hubungi tim perusahaan kami untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai pemilihan peralatan laboratorium, spesifikasi teknis, metode pengukuran, kebutuhan aplikasi, maupun kebutuhan pengadaan. Hubungi tim perusahaan kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.